Fear of Missing Out (FOMO): Alasan Kenapa Kita Takut Ketinggalan Tren di Internet

Di internet, tidak ada hari tanpa tren baru. Setiap minggu selalu ada topik yang sedang viral, aplikasi yang sedang naik daun, konser yang sedang diburu tiketnya, atau teknologi baru yang dianggap wajib dipelajari. Di tengah arus informasi tersebut, muncul fenomena yang dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO). Perasaan ini membuat banyak orang merasa perlu terus mengikuti perkembangan terbaru agar tidak tertinggal dari orang lain.

Meskipun sebenarnya tidak terlalu tertarik, kita tetap merasa perlu ikut tahu, perlu ikut mencoba dan perlu ikut masuk dalam percakapan. Namun mengapa rasa takut tertinggal ini bisa menjadi begitu kuat di era digital?. Karena sekarang, FOMO bukan lagi fenomena sampingan. Ia telah menjadi salah satu kekuatan yang memengaruhi cara kita menggunakan media sosial, mengonsumsi informasi, mengeluarkan uang, hingga mengambil keputusan sehari-hari.

Apa Itu Fear of Missing Out (FOMO)?

fear of missing out​ | Katali

Arti Fear of Missing Out

Fear of Missing Out atau FOMO adalah perasaan cemas bahwa orang lain sedang mendapatkan pengalaman, informasi, peluang, atau momen tertentu yang tidak kita dapatkan. Sederhananya, FOMO adalah ketakutan untuk tertinggal. Istilah ini mulai populer seiring berkembangnya media sosial karena platform digital memungkinkan kita melihat kehidupan, aktivitas, dan pencapaian orang lain hampir tanpa batas.

Menurut berbagai penelitian psikologi, FOMO berkaitan erat dengan kebutuhan manusia untuk merasa terhubung dan menjadi bagian dari kelompok sosial. Penjelasan mengenai fenomena ini juga banyak dibahas oleh American Psychological Association (APA) dalam berbagai publikasi mengenai perilaku sosial dan kesehatan mental.

Kenapa FOMO Semakin Relevan di Era Media Sosial?

Sebelum internet menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, seseorang hanya mengetahui apa yang terjadi di lingkungan terdekatnya. Tapi hari ini situasinya berbeda, dalam hitungan menit kita bisa melihat teman sedang berlibur ke luar negeri, kreator favorit menghadiri acara eksklusif, seseorang mendapatkan pekerjaan baru, tren yang sedang viral di TikTok, atau teknologi baru yang dianggap wajib dipelajari.

Semakin banyak informasi yang kita lihat, semakin besar peluang untuk membandingkan diri dengan orang lain.

FOMO Tidak Selalu Tentang Barang atau Uang

Banyak orang menganggap FOMO hanya berkaitan dengan belanja impulsif, padahal fenomena ini jauh lebih luas. Seseorang bisa mengalami FOMO terhadap:

  • Tren media sosial
  • Komunitas tertentu
  • Peluang karier
  • Perkembangan teknologi
  • Pengalaman hiburan
  • Percakapan yang sedang populer

Yang sebenarnya ditakuti bukan kehilangan barang, melainkan kehilangan kesempatan untuk menjadi bagian dari sesuatu yang dianggap penting.

Kenapa Manusia Mengalami FOMO?

Kebutuhan Dasar Untuk Menjadi Bagian Dari Kelompok

Manusia adalah makhluk sosial. Sejak dahulu, kemampuan untuk menjadi bagian dari kelompok membantu manusia bertahan hidup. Karena itu otak kita secara alami sensitif terhadap kemungkinan tertinggal dari lingkungan sekitar. Ketika melihat banyak orang melakukan sesuatu yang tidak kita lakukan, muncul sinyal psikologis bahwa kita mungkin kehilangan sesuatu yang bernilai.

Takut Tertinggal Dari Orang Lain

Perkembangan teknologi internet dan sosial memperbesar peluang perbandingan sosial. Masalahnya, yang kita lihat biasanya adalah versi terbaik dari kehidupan seseorang karena biasanya yang diupload itu berupa pencapaian, perjalanan, pengalaman menarik dan kesuksesan, tetapi jarang melihat kesulitan atau kegagalan yang terjadi di balik layar. Akibatnya, muncul ilusi bahwa kehidupan orang lain selalu lebih menarik dibanding kehidupan kita sendiri.

Media Sosial Memperbesar Efek Perbandingan

Platform digital dirancang untuk menunjukkan konten yang dianggap paling menarik bagi pengguna. Artinya kita terus-menerus melihat momen terbaik milik orang lain.

Semakin sering paparan tersebut terjadi, semakin besar kemungkinan munculnya perasaan bahwa kita sedang tertinggal. Fenomena ini juga dibahas oleh Verywell Mind yang menjelaskan bagaimana media sosial dapat memperkuat kecemasan sosial dan perasaan tertinggal.

Bagaimana Internet Membuat FOMO Semakin Kuat?

fear of missing out​ | Katali

Kita Selalu Melihat Kehidupan Orang Lain

Perubahan zaman dan teknologi membuat batas geografis hampir tidak relevan. Kita tidak lagi membandingkan diri dengan tetangga atau teman sekolah saja, karena sekarang kita membandingkan diri dengan seluruh dunia. Hal inilah yang membuat FOMO atau fear of missing out menjadi fenomena global.

Algoritma Menampilkan Apa yang Sedang Ramai

Salah satu alasan FOMO semakin kuat adalah cara algoritma bekerja. Platform media sosial cenderung memprioritaskan topik yang sedang mendapatkan banyak perhatian. Hal ini berdampak pada dorongan user untuk terus melihat tren yang sama berulang kali hingga muncul kesan bahwa semua orang sedang membicarakannya. Fenomena ini juga menjadi salah satu fondasi dari budaya viral, di mana perhatian publik sering kali menjadi ukuran utama nilai sebuah topik atau peristiwa.

Notifikasi Membuat Kita Sulit Melepas Diri

Notifikasi membuat kita selalu merasa ada sesuatu yang sedang terjadi. Ada unggahan baru, ada pesan baru, ada tren baru, atau ada diskusi baru. Kondisi ini menciptakan tekanan psikologis untuk terus terhubung dengan internet agar tidak merasa tertinggal.

Bentuk-Bentuk FOMO yang Paling Umum Saat Ini

1. FOMO Terhadap Tren Media Sosial

Ini adalah bentuk yang paling sering ditemui. Ketika sebuah tren menjadi viral, banyak orang merasa perlu ikut berpartisipasi meskipun sebenarnya tidak terlalu tertarik.

Tujuannya sederhana: agar tidak dianggap ketinggalan zaman.

2. FOMO Terhadap Event dan Konser

Fenomena ini semakin terlihat dalam industri hiburan. Banyak orang rela berburu tiket sejak masa presale bukan hanya karena menyukai artisnya, tetapi juga karena tidak ingin menjadi satu-satunya orang di circle pertemanannya yang tidak ikut hadir. Perilaku tersebut dapat dilihat pada fenomena berburu tiket konser yang semakin kompetitif dalam beberapa tahun terakhir.

3. FOMO Terhadap Investasi dan Finansial

Ketika sebuah instrumen investasi sedang populer, banyak orang merasa harus ikut masuk sebelum terlambat. Padahal, keputusan finansial yang didorong rasa takut sering kali menghasilkan hasil yang kurang ideal karena bukan berasal dari fondasi dan pengetahuan keuangan yang matang.

Menariknya, sebagian anak muda mulai merespons tekanan tersebut melalui tren loud budgeting, yaitu kebiasaan lebih terbuka mengenai tujuan keuangan dan keterbatasan finansial dibanding mengikuti budaya flexing.

4. FOMO Terhadap Teknologi dan AI

Dalam dunia kerja modern, banyak profesional mulai mengalami FOMO atau fear of missing out terhadap perkembangan teknologi. Muncul kekhawatiran bahwa jika tidak segera belajar AI, mereka akan tertinggal dari orang lain. Di satu sisi hal ini dapat mendorong pembelajaran. Namun di sisi lain, tekanan untuk selalu mengikuti perkembangan teknologi juga bisa menjadi sumber stres baru.

Dampak Positif Fear of Missing Out

Mendorong Seseorang Untuk Belajar Hal Baru

Tidak semua FOMO bersifat negatif. Dalam beberapa situasi, FOMO atau fear of missing out bisa menjadi dorongan untuk mempelajari keterampilan baru, memperluas wawasan, dan lebih terbuka terhadap perubahan.

Membantu Tetap Terhubung Dengan Perkembangan Dunia

Perasaan takut tertinggal dapat membuat seseorang lebih aktif mengikuti perkembangan informasi yang relevan dengan kehidupan dan pekerjaannya.

Menjadi Pemicu Eksplorasi

Banyak orang menemukan komunitas, hobi, atau peluang baru karena rasa penasaran yang awalnya dipicu oleh FOMO atau fear of missing out.

Dampak Negatif Fear of Missing Out

Keputusan Impulsif

Salah satu dampak paling umum adalah pengambilan keputusan yang didorong emosi, bukan pertimbangan rasional. Padahal keputusan tersebut dapat berdampak jauh kedepan, bukan hanya pada saat keputusan itu diputuskan saja.

Konsumsi Berlebihan

FOMO atau fear of missing out sering menjadi alasan di balik pembelian barang, pengalaman, atau layanan yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Semua keputusan pembelian tersebut hanya berdasarkan apa yang sedang ramai orang beli atau konsumsi saja.

Kecemasan Sosial

Semakin sering seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain, semakin besar risiko munculnya kecemasan sosial, atau yang banyak dikenal oleh anak gaul sekarang dengan Anxiety. Bahkan kata Anxiety yang belum banyak dikenal di beberapa generasi sebelumnya, sekarang sudah menjadi hal yang lumrah terjadi pada anak muda.

Sulit Merasa Puas Dengan Diri Sendiri

Ketika fokus selalu tertuju pada apa yang dimiliki orang lain, akan semakin sulit menghargai apa yang sudah dimiliki saat ini. Padahal dalam saat-saat tertentu, kita membutuhkan penghargaan pada diri sendiri sebagai rasa syukur dan tidak merasa tertekan secara terus-menerus.

FOMO vs JOMO: Dua Cara Menghadapi Dunia Digital

fear of missing out​ | Katali

Apa Itu JOMO (Joy of Missing Out)?

Jika FOMO atau fear of missing out adalah ketakutan untuk tertinggal, maka JOMO atau Joy of Missing Out adalah kebalikannya, yaitu kemampuan untuk merasa nyaman meskipun tidak mengikuti semua hal yang sedang terjadi.

Kenapa Semakin Banyak Orang Memilih JOMO?

Banyak orang mulai menyadari bahwa mustahil mengikuti setiap tren yang muncul di internet. Karena itu mereka mulai lebih selektif dalam memilih informasi yang layak mendapatkan perhatian.

Tidak Semua Hal Harus Diikuti

Di internet akan selalu ada tren baru, ada hal baru yang viral, namun tidak semua tren memiliki dampak yang sama terhadap kehidupan kita. Kemampuan untuk memilih apa yang penting menjadi keterampilan yang semakin berharga di era digital.

Apakah FOMO Akan Semakin Besar di Masa Depan?

AI dan Ledakan Informasi

Teknologi AI membuat produksi konten menjadi jauh lebih cepat dibanding sebelumnya, artinya jumlah informasi yang beredar akan terus meningkat. Semakin besar jumlah informasi, maka kemungkinan munculnya rasa FOMO atau fear of missing out pun akan semakin kuat.

Persaingan Perhatian Semakin Ketat

Semakin banyak informasi yang tersedia, semakin sulit mendapatkan perhatian publik. Inilah yang kemudian melahirkan konsep attention economy, yaitu kondisi ketika perhatian manusia menjadi sumber daya yang diperebutkan oleh platform, media, brand, dan kreator.

Fenomena attention economy juga menjelaskan mengapa begitu banyak konten dirancang untuk memicu reaksi emosional dan mendorong interaksi.

Tantangan Menjaga Fokus di Era Digital

Menurut berbagai riset yang dirilis oleh Pew Research Center, masyarakat modern menghadapi arus informasi yang semakin besar dari tahun ke tahun. Dalam kondisi seperti ini, tantangan terbesar bukan lagi mendapatkan informasi, melainkan memilih informasi mana yang layak mendapatkan perhatian.

Kita Tidak Mungkin Mengikuti Semua Hal

fear of missing out​ | Katali

Fear of Missing Out adalah respons yang sangat manusiawi. Kita ingin merasa terhubung, menjadi bagian dari kelompok dan tidak ingin tertinggal. Namun internet memperbesar perasaan tersebut hingga memengaruhi cara kita berpikir, berbelanja, bekerja, dan berinteraksi dengan orang lain.

Karena itu, mungkin keterampilan paling penting di era digital bukanlah kemampuan untuk mengikuti semua tren, tapi:

Kemampuan untuk menerima bahwa kita memang tidak harus mengikuti semuanya.

Tinggalkan komentar