Baju Thrift Ketinggalan Zaman? Kenapa Gen Z Mulai Beralih ke Local Brand Berbasis Sustainable Fashion.

Baju thrift dan aktivitas thrifting yang beberapa tahun ini sudah menjadi simbol budaya anak muda, perlahan mulai tergantikan. “Kalau belum thrift ya belum skena” mungkin sekarang sudah tidak se-relate itu lagi. Thrifting yang dulu hype karena selain murah, ia juga dianggap unik, anti-mainstream dan lebih punya “karakter” dibandingkan dengan fast fashion sekarang beranjak sepi.

Sebagian anak muda dan Gen Z sekarang sudah meninggalkan jual-beli baju thrift dan beralih ke “lokal brand”, produk limited edition dan fashion dengan narasi sustainability. Padahal baru beberapa tahun ini thrift haul, hunting vintage sampai flexing hidden gem dari pasar loak itu rame dan FYP. Fenomena ini menunjukkan bahwa perubahan fashion hari ini bukan sekadar soal tren pakaian, tapi tentang bagaimana generasi digital membangun identitas dan value lewat apa yang mereka pakai dan konsumsi.

Kenapa Thrifting Pernah Meledak di Kalangan Gen Z?

Baju Thrift | Katali

Harga murah & aksesibel

Salah satu alasan utama thrifting booming tentu saja harga. Di tengah naiknya biaya hidup dan mahalnya fashion retail, baju thrift merupakan alternatif yang terasa lebih realistis. Karena hanya dengan budget yang terbatas, orang tetap bisa tampil stylish, bereksperimen dengan style dan tetap bisa mengikuti tren internet.

Anti-mainstream & pencarian identitas

Selain murah, thrifting juga punya nilai sosial tertentu. Memakai baju thrift dulu identik dengan kreatif, berbeda dan tidak mengikuti pasar mainstream. Di era awal budaya internet fashion, tampil “unik” memang punya nilai tinggi. Setiap orang ingin terlihat berbeda, setiap orang berlomba untuk jadi otentik. Apalagi di usia anak muda yang memang masuk pada fase pencarian identitas dan eksplorasi diri, baju thrift adalah pilihan yang paling pas karena ketersediaan banyaknya pilihan dengan modal yang lebih sedikit dibandingkan dengan baju branded atau fashion retail.

Internet & budaya “hidden gem”

Platform seperti TikTok dan Instagram punya peran besar dalam membesarkan budaya thrift:

  • Thrift haul
  • OOTD dan Outfit transformation
  • Konten “hidden gem” fashion

Marak dan ramainya konten-konten seperti ini membuat thrifting terasa seperti bagian dari lifestyle digital anak muda. Fenomena ini juga berkaitan dengan perubahan besar dalam pop culture modern, di mana komunitas internet mulai lebih berpengaruh dibanding industri besar.

Baca juga: “Evolusi Pop Culture 2026: Bagaimana Komunitas Digital Mengubah Cara Kita Mengonsumsi Hiburan.”

Downfall Thrifting dan Pembelian Baju Thrift

Hari ini, thrifting sudah tidak terlalu laris di kalangan anak muda khususnya Gen Z. Perlahan perilaku konsumsi fashion pun mulai berubah seiring berkembangnya tren. Beberapa alasan diantaranya adalah:

Thrifting sudah terlalu mainstream

Ironisnya, salah satu alasan thrifting mulai kehilangan daya tarik adalah

Karena terlalu populer

Budaya yang dulu terasa niche sekarang justru menjadi sebuah hal yang “template”. Akibatnya, style mulai terasa repetitif, aesthetic menjadi seragam dan unsur eksklusivitas perlahan hilang. Oleh karena itulah anak muda sudah mulai beranjak dari pembelian baju thrift, karena memang dari awal thrifting ini naik karena bisa menjadi pembeda dan hal yang otentik bagi identitas diri mereka. Jika semua orang malah beralih ke thrifting? Lalu dimana letak berbeda dan identitas dirinya?.

Harga thrift mulai tidak masuk akal

Masalah lain adalah dari kepopuleran thrifting bukan hanya pada kehilangan penggemar, tapi juga merambah ke ranah harga. Semakin viral sebuah item, maka semakin tinggi pula markup-nya. Banyak produk thrift sekarang bahkan dijual mendekati harga retail baru. Akibatnya, konsep murah tapi unik ini pun mulai kehilangan makna.

Kualitas & pengalaman belanja tidak konsisten

Apa yang kita lihat di konten sosial media terkadang realitasnya jauh berbeda. Banyak anak muda yang tergiur beli baju thrift hanya karena konten influencer fashion, padahal kualitas dari baju thrift itu tidak akan pernah sama persis. Merasakan kecewa karena perbedaan barang, banyak yang memilih mundur dan memilih kepastian dengan membeli brand baru baik micro maupun besar. Tidak hanya itu, bantuan filter dan editing dari sosial media juga banyak membuat anak muda tertipu karena memang mencari baju thrift yang tepat itu tidak semudah dan semenyenangkan apa yang mereka lihat di konten sosial media.

Pengalaman thrifting tidak selalu nyaman

Tidak semua orang punya waktu dan energi untuk:

  • Hunting berjam-jam
  • Cek kondisi barang satu per satu
  • Menghadapi sizing yang tidak konsisten.

Di titik tertentu, sebagian orang mulai mencari pengalaman konsumsi yang lebih praktis dan jelas seperti yang telah kita jelaskan sebelumnya.

Munculnya Local Brand Berbasis Sustainable Fashion

Baju Thrift | Katali.id

Gen Z mulai mencari value, bukan sekadar murah

Perubahan terbesar sekarang adalah orang mulai membeli berdasarkan value, bukan hanya karena murah. Banyak anak muda mulai memperhatikan kualitas, cerita brand, transparansi produksi dan filosofi di balik produk.

Sustainable fashion jadi simbol identitas baru

Sustainability sekarang bukan hanya isu lingkungan. Tapi juga bagian dari personal branding, identitas sosial dan cara menunjukkan value pribadi. Hal ini selaras dengan semakin banyaknya persona dan brand hype di internet yang memiliki concern yang tinggi terhadap lingkungan. Mulai dari bahan pembuatan, packaging ramah lingkungan maupun hal-hal yang terkait sustainability sekarang sudah menjadi faktor strategis brand dalam mendapatkan perhatian dan konsumsi dari Gen Z.

Laporan dari McKinsey & Company menunjukkan bahwa konsumen muda semakin mempertimbangkan faktor sustainability dan ethical production dalam keputusan membeli fashion.

Local brand lebih dekat secara emosional

Banyak local brand kecil berhasil membangun komunitas, storytelling dan koneksi emosional dengan audiens mereka. Berbeda dengan fast fashion massal, local brand sekarang itu berlomba-lomba untuk:

  • Lebih dekat
  • Lebih relatable
  • Lebih punya karakter.

Fashion Sekarang Bukan Soal Pakaian, Tapi Personal Branding

Apa yang dipakai mencerminkan value pribadi

Di era digital, pakaian menjadi bentuk komunikasi sosial. Orang tidak hanya membeli baju, tapi membeli identitas, image dan value tertentu. Karena itu, sustainable fashion mulai dipandang sebagai representasi gaya hidup yang lebih bijaksana. Membeli baju thrift bukan hanya dianggap sebagai pilihan karena tidak punya uang atau suka vintage, tapi juga sebagai pengumuman ke semua orang bahwa dia peduli terhadap lingkungan, peduli dengan bumi tercinta ini.

Media sosial mengubah cara orang membangun style

Platform digital membuat fashion semakin visual. Outfit sekarang bukan hanya dipakai di dunia nyata, tapi juga untuk:

  • Konten
  • Feed Instagram
  • TikTok
  • Digital identity.

Fenomena yang dipengaruhi media sosial ini tidak hanya terjadi di jual-beli baju thrift saja, ini mirip dengan budaya konser modern, di mana pengalaman dan visual sosial menjadi bagian penting dari konsumsi pop culture.

Baca juga: “Perang Harga Tiket Konser 2026: Kenapa Anak Muda Rela Boncos Demi Pengalaman Sekali Seumur Hidup?”

Dari “murah” ke “meaningful”

Dulu banyak orang membeli karena murah. Tapi sekarang tidak sesimpel itu, proses konsumsi sekarang mulai bergeser ke:

“apakah brand ini terasa relate dengan saya?”

Ini menunjukkan bahwa konsumsi modern semakin emosional dan identity-driven.

Apakah Sustainable Fashion Benar-Benar Sustainable?

Resiko sustainability jadi sekadar marketing

Masalahnya, semakin populer sustainability maka semakin banyak brand memakai narasi itu sebagai gimmick. Fenomena ini dikenal sebagai greenwashing. Dimana brand terlihat “peduli lingkungan”, padahal praktik produksinya belum tentu benar-benar sustainable.

Konsumsi tetap konsumsi

Selain resiko “fake kecintaan lingkungan” oleh brand-brand, ada ironi lain dari semua ini yaitu meskipun sustainable fashion terdengar positif, konsumsi berlebihan tetap saja konsumsi. Membeli terlalu banyak demi tren internet tetap menghasilkan:

  • Overconsumption
  • Limbah
  • Budaya konsumsi cepat.

Slow fashion vs trend culture internet

Di sisi lain, budaya algoritma internet mendorong tren cepat naik, tren cepat mati dan kebutuhan terus tampil “baru”. Padahal konsep sustainable fashion justru lebih dekat dengan slow consumption. Konflik ini membuat sustainable fashion sering berada di tengah dilema budaya digital modern.

Dampak Pergeseran Ini terhadap Industri Fashion Lokal

Baju Thrift | Katali.id

Local brand punya peluang besar

Perubahan perilaku Gen Z membuka peluang besar bagi small local brand niche fashion label dan community-based fashion business. Karena hari ini, brand kecil bisa tumbuh lewat komunitas, storytelling dan koneksi emosional.

Brand sekarang dijual lewat cerita, bukan produk saja

Di era digital, jual baju thrift saja tidak cukup. Yang dijual adalah cerita, filosofi dan identitas brand. Ini mirip dengan fandom culture modern, di mana komunitas sering lebih penting daripada produk itu sendiri.

Gen Z Tidak Lagi Sekadar Cari Murah

Perubahan dari thrifting menuju sustainable local brand menunjukkan satu hal penting, yaitu Gen Z mulai membeli bukan hanya berdasarkan harga, tapi berdasarkan:

  • Value
  • Identitas
  • Koneksi emosional terhadap produk.

Fashion hari ini bukan lagi sekadar soal pakaian, bukan tentang pakai baju thrift atau branded, tapi tentang bagaimana seseorang ingin dilihat di tengah budaya internet yang terus berubah. Di era sekarang style bukan cuma soal apa yang dipakai, melainkan:

Apa yang diyakini, didukung nilainya dan sebuah bentuk dari jati diri

Tinggalkan komentar