Kita tahu uang seharusnya disimpan, kita tahu masa depan butuh persiapan dan kita juga tahu harga rumah tidak semakin murah serta hidup juga tidak tiba-tiba menjadi lebih gampang. Tapi setelah hari yang melelahkan, membuka marketplace dan membeli sesuatu yang sudah lama diinginkan bisa terasa seperti ditiup angin segar ditengah gurun pasir yang panas daripada memikirkan semuanya.
“Ya udah, nikmatin sekarang.”
Kalimat seperti ini mungkin terdengar sederhana. Tapi di baliknya ada fenomena yang belakangan dikenal sebagai Doom Spending Gen Z. Sebuah fenomena yang terkhusus dicap dan menjadi bagian dari “image” satu generasi, yaitu ketika kecenderungan membelanjakan uang untuk kesenangan saat ini ketika masa depan terasa penuh ketidakpastian.
Istilah ini memang populer dari media sosial, bukan diagnosis atau kategori ekonomi resmi, tetapi fenomenanya cukup menarik untuk dibicarakan. Karena mungkin masalahnya bukan sekedar kita terlalu suka belanja, tapi tentang kita terlalu sering merasa masa depan tidak bisa dikendalikan.
Saat Masa Depan Terasa Tidak Bisa Dikendalikan

Menabung untuk Masa Depan Seakan Makin Percuma
Kita terkadang tidak dapat membedakan antara mendapatkan sesuatu sekarang dan berharap sesuatu akan terjadi sepuluh tahun lagi. Checkout memberikan hasil dalam hitungan menit, ada aktivitas langsungnya, tapi menabung hanya memberikan kemungkinan. Kita belum tahu apakah uang yang disimpan hari ini nantinya cukup untuk membeli rumah, menghadapi keadaan darurat, atau menjalani hidup yang lebih nyaman. Masa depan terlalu jauh.
Sementara rasa senang setelah membeli makanan favorit, pakaian baru, gadget, atau tiket konser terasa sangat nyata dan dapat dirasakan sekarang. Itulah salah satu alasan mengapa doom spending gen z tidak sesederhana lahir dari ketidaktahuan soal keuangan, tapi justru sebaliknya. Kita tahu masa depan sulit, kita tahu harus menabung, tapi karena masa depan terasa begitu tidak pasti, kesenangan yang bisa dirasakan sekarang terasa jauh lebih konkret.
Kita Hidup di Tengah Berita Tentang Masa Depan yang Tidak Pasti
Setiap hari kita melihat berita tentang harga yang naik, pekerjaan yang berubah, PHK, biaya rumah yang semakin sulit dijangkau, sampai teknologi yang berpotensi mengubah banyak jenis pekerjaan. Belum selesai memikirkan satu hal, muncul kekhawatiran berikutnya.
Survei Deloitte terhadap Gen Z dan milenial pada 2025 menunjukkan lebih dari 80% responden menyebut kondisi keuangan sehari-hari dan masa depan finansial sebagai sumber stres atau kecemasan. Bahkan 48% Gen Z dalam survei tersebut mengatakan mereka tidak merasa aman secara finansial. Ini tentu tidak berarti seluruh doom spending gen z terjadi di semua orang yang ada di generasi ini, tapi konteksnya penting.
Kalau kita hidup dalam situasi di mana masa depan terus terasa tidak pasti, cara kita memandang uang juga bisa berubah, uang bukan cuma alat untuk membangun masa depan. Terkadang uang menjadi sesuatu yang ingin dinikmati sebelum semuanya berubah.
“Kalau Besok Belum Pasti, Kenapa Nggak Dinikmati Sekarang?”
Mungkin inilah logika paling sederhana di balik doom spending. Bukan tentang kita yang tidak peduli sama sekali dengan masa depan, tetapi
“Gue nggak tahu masa depan bakal seperti apa.
Jadi setidaknya hari ini gue bisa menikmati sesuatu.”
Fenomena ini juga banyak dibahas sebagai respons emosional terhadap tekanan ekonomi dan ketidakpastian. ANTARA misalnya, menggambarkan doom spending gen z sebagai kecenderungan menghabiskan uang sekarang sebagai bentuk pelampiasan atau penghiburan ketika masa depan terasa tidak menentu. Masalahnya, rasa lega tersebut biasanya hanya berlangsung sebentar. Barang datang, pesanan selesai, perasaan senang turun dan masa depan tetap ada di depan mata.
Belanja Bukan Lagi Sekedar Soal Barang

Yang Dibeli Bukan Produknya, Tapi Perasaannya
Coba perhatikan bagaimana gen z sekarang bercerita tentang belanja.
“Abis gajian, gue self reward.”
“Lagi stres, jadi makan enak.”
“Kerja terus, masa nggak boleh beli sesuatu?”
Kalimat-kalimat ini menunjukkan bahwa konsumsi tidak selalu punya hubungan langsung dengan kebutuhan. Ada emosi di belakangnya.
Kita membeli karena ingin merasa senang, ingin merasa pantas mendapatkan sesuatu, ingin merayakan sesuatu, atau sekedar ingin berhenti memikirkan sesuatu selama beberapa saat. Penelitian tentang doom spending gen z di Indonesia juga melihat perilaku ini sebagai pola pembelian emosional yang dapat dipengaruhi oleh stres, paparan media sosial, dan lingkungan konsumsi digital. Jadi barangnya mungkin hanya perantara, Yang sebenarnya kita cari adalah perubahan perasaan.
Self Reward dan Doom Spending Gen Z, Serupa tapi Tak Sama
Di sinilah keduanya bisa jadi sulit dibedakan. Bayangkan seseorang baru menyelesaikan proyek besar, ia membeli sepatu yang memang sudah lama diincar. Itu bisa menjadi self reward. Tapi ada situasi lain, seseorang sedang stres memikirkan pekerjaan, uang, dan masa depan. Ia membuka marketplace, membeli beberapa barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, lalu merasa lebih baik untuk sementara. Sama-sama belanja, sama-sama terasa menyenangkan, tetapi motifnya berbeda.
Self reward gen z biasanya muncul sebagai bentuk apresiasi setelah sesuatu yang memang ingin dirayakan. Sementara doom spending gen z lebih dekat dengan pelarian dari rasa tidak nyaman. Karena itu, tidak semua belanja untuk kesenangan bisa disebut doom spending.
Ketika Checkout Menjadi Cara Mengalihkan Pikiran
Sialnya, terkadang kita tidak terlalu butuh dengan barangnya, tapi kita butuh sebuah ditraksi yang datang bersamaan dengan pembelian barangnya. Scroll marketplace, lihat barang, masukkan keranjang, cari voucher, lalu checkout.
Dalam beberapa menit, perhatian kita pindah dari sesuatu yang membuat cemas ke sesuatu yang terasa menyenangkan. Penelitian lain tentang doom spending gen z juga mengaitkannya dengan tekanan emosional, media sosial, kemudahan akses finansial, dan budaya doomscrolling. Ini yang membuat belanja digital terasa berbeda. Kita bahkan tidak perlu keluar rumah untuk melakukan sesuatu yang bisa menjadi pelarian, cukup buka smartphone. Tapi masalahnya, setelah paket datang, masalah awal belum tentu ikut pergi. Barangnya datang, tapi kecemasannya belum tentu.
Doom Spending Semakin Mudah Karena Teknologi

Kita Tidak Perlu Lagi Keluar Rumah untuk Belanja
Dulu ada jarak antara ingin membeli sesuatu dan benar-benar membelinya. Kita harus pergi ke toko, mencari barang, membawa uang dan memutuskan untuk membayar. Sekarang jaraknya bisa sesingkat beberapa detik, lihat, klik, checkout, selesai.
Kemudahan ini memang bukan penyebab tunggal doom spending gen z, tetapi membuat keputusan impulsif jauh lebih mudah dilakukan. Beberapa pakar juga mengamini bahwa doom spending gen z di Indonesia juga melihat teknologi digital, media sosial, dan metode pembayaran sebagai bagian dari ekosistem yang membentuk perilaku tersebut. Ketika akses ke konsumsi semakin mudah, kita tidak hanya punya lebih banyak pilihan. Kita juga punya lebih sedikit waktu untuk berhenti dan bertanya apakah sebenarnya kita beli ini karena butuh atau karena ingin jadi pelarian sementara saja.
Konten Membuat Keinginan Tercipta Sebelum Kita Sadar Membutuhkannya
Kita bisa membuka media sosial tanpa niat belanja apa pun, tapi lima menit kemudian sudah melihat:
“Things I bought.”
“Amazon finds.”
“Unboxing.”
“Must have.”
“Self reward.”
“Racun TikTok.”
Sialnya, otak kita tidak selalu membedakan antara kebutuhan yang sudah ada dan keinginan yang baru saja diperkenalkan. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kita pikirkan bisa tiba-tiba menjadi hal yang penting setelah melihatnya berkali-kali. Di sinilah doom spending bertemu dengan consumer culture. Kita bukan hanya hidup di lingkungan yang memungkinkan kita membeli apa pun dengan cepat, kita juga hidup di lingkungan yang terus-menerus menunjukkan apa yang bisa kita beli.
Promo yang Menciptakan Ilusi Belanja Menjadi Kesempatan yang Harus Diambil
Diskon cuma hari ini, gratis ongkir, flash sale, atau last chance. Kita sudah sangat terbiasa dengan bahasa seperti ini. Padahal kata-kata tersebut membuat keputusan konsumsi menjadi sesuatu yang harus dilakukan sekarang. Mereka mengalihkan paradigma-nya dari kebutuhan akan barang ini atau tidak, menjadi sebuah kerugian jika tidak membeli barangnya seakarang.
Di titik ini, rasa takut ketinggalan bisa ikut bermain. Kita bukan cuma ingin barangnya, kita takut kehilangan kesempatan untuk mendapatkannya dengan harga tertentu. Itulah mengapa FOMO bisa menjadi salah satu mekanisme yang memperkuat perilaku konsumsi impulsif, terutama ketika kita terus melihat orang lain memiliki atau menikmati sesuatu yang sama.
Apakah Doom Spending Gen Z Benar-Benar Masalah?
Tidak Semua Belanja Karena Ingin Bahagia Adalah Doom Spending
Penting untuk tidak menjadikan istilah ini sebagai label untuk semua orang yang suka belanja. Membeli makanan favorit setelah hari yang panjang bukan otomatis doom spending, pergi liburan setelah bekerja keras juga bukan dan membeli pakaian yang memang kita sukai juga bukan. Bahkan sesekali menghabiskan uang untuk sesuatu yang membuat hidup terasa lebih menyenangkan adalah bagian normal dari konsumsi.
Kalau setiap pembelian anak muda yang didorong emosi langsung disebut doom spending gen z, istilahnya kehilangan makna. Yang membedakan adalah pola dan fungsinya. Apakah kita memang menikmati uang yang sudah dialokasikan? Atau kita terus menggunakan belanja sebagai cara untuk menghindari perasaan tertentu?
Masalahnya Ketika Konsumsi Menjadi Satu-Satunya Cara Merasa Baik
Bayangkan polanya:
cemas → belanja → lega → menyesal → cemas lagi → belanja lagi.
Kalau siklus tersebut terus berulang, masalahnya sudah bukan sekadar “boros”. Belanja berubah fungsi seperti tombol untuk mengubah suasana hati. Psychology Today juga mencatat bahwa financial anxiety dapat mendorong perilaku yang membuat seseorang merasa lebih baik dalam jangka pendek, tetapi justru memperburuk tekanan finansial ketika pengeluaran tersebut menambah beban.
Ironisnya, sesuatu yang awalnya digunakan untuk mengurangi kecemasan bisa menciptakan kecemasan baru. Saldo berkurang, tagihan datang, tabungan tertunda, lalu stres muncul lagi.
Pertanyaannya Bukan Doom Spending Gen Z yang Gila-gilaan
Ini mungkin bagian yang paling menarik dari fenomena doom spending Gen Z. Kita terlalu mudah bertanya kenapa gen z terlihat sangat boros, padahal pertanyaan tersebut langsung menempatkan generasi sebagai masalah. Pertanyaan yang lebih menarik justru tentang kenapa masa depan terasa begitu tidak meyakinkan sampai sebagian orang merasa lebih nyaman membeli sesuatu hari ini.
Karena kalau kita hanya menyuruh orang berhenti belanja, kita mungkin hanya menghilangkan perilakunya tanpa memahami penyebabnya. Padahal di balik satu transaksi bisa ada stres, ada rasa tidak aman, ada tekanan sosial, ada kelelahan, serta ada kebutuhan untuk merasa punya kendali. Dan semua itu terjadi dalam lingkungan digital yang membuat konsumsi semakin mudah.
Ketika Belanja Menjadi Cara Membeli Sedikit Rasa Aman

Doom spending gen z menarik karena memperlihatkan bahwa hubungan kita dengan uang tidak selalu rasional. Kadang kita tidak membeli karena benar-benar membutuhkan barang, kita membeli karena ingin merasa senang. Ingin merasa lega, ingin merasa punya kendali, atau sekedar ingin lupa sebentar bahwa masa depan terasa rumit.
Internet kemudian membuat pelarian kecil tersebut semakin mudah. Tinggal buka aplikasi, lihat sesuatu, checkout, selesai. Tapi tentu saja, masa depan tidak ikut selesai. Mungkin itu sebabnya doom spending gen z tidak cukup dijelaskan dengan kepintaran generasi ini dalam mengatur keuangan saja karena fenomenanya tidak sesederhana melihat dan mengecek angka di rekening saja.
Ketika masa depan terasa terlalu tidak pasti, menikmati hari ini bisa terasa seperti satu-satunya hal yang masih bisa kita kendalikan. Oleh karena itu pertanyaannya harus dialihkan bukan dengan boleh atau tidaknya kita menikmati uangnya hari ini, tetapi:
“Kita sedang menikmati hidup, atau sedang menggunakan konsumsi untuk menghindari memikirkan hidup?”
Karena keduanya terlihat hampir sama dari luar, tapi rasanya sangat berbeda ketika tagihan datang.
Daftar Isi

Melalui pendekatan analisis, konteks, dan sudut pandang yang lebih mendalam, Katali berupaya menghadirkan pembahasan yang tidak hanya mengikuti viralitas, tetapi juga memahami apa yang terjadi di baliknya.
