Beberapa tahun sebelumnya, punya pekerjaan sudah terasa seperti pencapaian. Sekarang, punya pekerjaan sudah berubah dari sebuah pencapaian menjadi langkah pertama menuju pencapaian tersebut, namun perjalanannya masih sangat jauh.
Kita dituntut punya skill baru, mengejar jabatan, memperbesar penghasilan, membangun networking, memahami teknologi, bahkan punya pekerjaan sampingan. Di saat yang sama, media sosial terus memperlihatkan orang lain yang terlihat sedang naik level. Teman kuliah sudah jadi manager, teman seangkatan pindah ke perusahaan yang lebih besar, atau seseorang yang bahkan tidak kita kenal mengunggah pencapaian kariernya di LinkedIn. Sementara kita masih di tempat yang sama. Pelan-pelan, dunia kerja berevolusi menjadi sebuah perlombaan. Sialnya, tidak ada yang pernah menjelaskan garis finish-nya dimana.
Dunia Kerja Sekarang Tidak Hanya Menuntut Kita Bekerja, Tapi Juga Berkembang

Dulu Punya Pekerjaan Sudah Menjadi Pencapaian
Ada masa ketika pekerjaan terutama dilihat sebagai cara untuk mendapatkan penghasilan dan menjalani hidup. Kita bekerja, menerima gaji, lalu pulang. Tentu, karier tetap penting. Tapi sekarang pekerjaan membawa tuntutan yang jauh lebih banyak, kita tidak hanya ditanya bekerja sebagai apa, tetapi juga sudah sampai mana.
Sudah naik jabatan?
Sudah punya sertifikasi?
Sudah belajar skill baru?
Sudah punya personal branding?
Sudah punya penghasilan tambahan?
Pertanyaan-pertanyaan itu akhirnya membuat pekerjaan berubah menjadi sesuatu yang harus terus ditingkatkan.
Sekarang Kita Dituntut Terus Naik Level
Belajar hal baru sebenarnya bukan masalah, dunia memang berubah dan kita perlu beradaptasi. World Economic Forum memperkirakan sekitar 39% skill yang dibutuhkan pekerja saat ini akan berubah atau menjadi usang pada periode 2025–2030. Kemampuan teknologi memang semakin penting, tetapi skill seperti berpikir analitis, kreativitas, fleksibilitas, dan ketahanan juga tetap dibutuhkan.
Artinya, belajar memang semakin menjadi bagian dari dunia kerja. Masalahnya muncul ketika proses berkembang itu berubah menjadi kewajiban untuk selalu bergerak. Hari ini harus belajar, besok harus naik jabatan, setelah itu mencari pekerjaan yang lebih besar, lalu mulai memikirkan side hustle. Seolah-olah tidak ada titik di mana kita boleh berkata, “Untuk sekarang, ini sudah cukup.”
Diam yang Berarti Ketinggalan
Kita akhirnya tidak hanya takut kehilangan pekerjaan, tapi kita juga takut tertinggal dari orang lain. Tidak mendapat promosi dalam beberapa tahun terasa seperti kegagalan, tidak pindah kerja dianggap kurang ambisius dan tidak punya pekerjaan sampingan terlihat seperti tidak memanfaatkan peluang. Padahal, hidup setiap orang tidak dimulai dari garis yang sama.
Tapi Kenapa Karier Orang Lain yang Jadi Patokannya?
Fatamorgana Kesuksesan Orang Lain Via Sosial Media
Dulu, perbandingan karier mungkin hanya terjadi ketika bertemu teman lama. Sekarang, kita bisa melihat perkembangan karier orang lain setiap hari. LinkedIn dipenuhi pengumuman pekerjaan baru., instagram memperlihatkan pencapaian, serta TikTok menghadirkan cerita tentang orang yang berhasil meningkatkan penghasilan di usia muda. Kita bahkan bisa membandingkan diri dengan orang yang tidak pernah kita temui. Aneh kan?
Permasalahanannya bukan karena mereka membagikan pencapaiannya, masalahnya adalah kita melihat terlalu banyak pencapaian dalam waktu yang terlalu singkat. Ada orang naik jabatan, ada orang lain membuka bisnis atau ada yang malah pindah ke luar negeri. Ketika semuanya muncul dalam satu layar, rasanya seperti semua orang sedang bergerak, kecuali kita.
Kita Hanya Melihat Hasil, Bukan Seluruh Perjalanannya
Ada satu hal yang sering hilang dari perbandingan karier, yaitu konteks. Kita melihat seseorang mendapat pekerjaan impian, tetapi tidak tahu berapa lama dia mencarinya. Kita melihat seseorang mendapat promosi, tetapi tidak tahu berapa banyak kegagalan yang terjadi sebelumnya. Kita melihat seseorang punya penghasilan tambahan, tetapi tidak tahu berapa banyak waktu yang harus dikorbankan.
Kita membandingkan kehidupan kita yang penuh detail dengan potongan kehidupan orang lain yang sudah dipilih untuk ditampilkan, tidak heran kalau standar kita kemudian terasa semakin tinggi.
Akibatnya, Karier Punya Deadline
Dari sinilah muncul pertanyaan yang sebenarnya cukup melelahkan seperti umur 25 harus sudah jadi apa? Umur 30 harus sudah punya apa? Kapan harus naik jabatan? Kapan harus punya rumah? Kapan harus menghasilkan sekian juta?.
Padahal, tidak ada kalender universal untuk karier dan pribadi orang-orang. Ada orang yang menemukan bidangnya sejak lulus kuliah, ada yang baru menemukannya setelah beberapa kali pindah pekerjaan, ada yang memilih pekerjaan stabil, tapi ada juga yang sengaja memperlambat karier karena punya prioritas lain.
Kalau kita terus menggunakan timeline orang lain untuk mengukur hidup sendiri, hampir selalu akan ada alasan untuk merasa terlambat. Karena itu, memahami lingkungan kerja modern juga berarti memahami bagaimana pekerjaan mulai memengaruhi cara kita melihat diri sendiri, bukan cuma berapa besar gaji yang kita terima.
Kenapa Kita Merasa Harus Terus Berlari?

Dunia Kerja Memang Berubah Cepat
Tidak semua tekanan untuk berkembang berasal dari media sosial, dunia kerja memang sedang berubah. Teknologi, AI, perubahan model bisnis, dan kebutuhan skill baru membuat banyak pekerjaan ikut mengalami transformasi. WEF, misalnya, memperkirakan perubahan teknologi dan berbagai tren ekonomi akan menciptakan sekaligus menggeser jutaan pekerjaan dalam dunia kerja hingga 2030.
Sederhananya, kebutuhan untuk belajar bukan sekadar tren LinkedIn, tapi memang ada perubahan nyata yang perlu kita hadapi. Terutama dalam dunia kerja.
Keamanan Kerja Bukan Lagi Hal yang Sepeleh
Jika sebelumnya memiliki pekerjaan tetap mungkin sudah cukup memberikan rasa aman. Sekarang, rasa aman itu hanyalah kata-kata kita yang coba menenangkan diri. Kita mulai berpikir tentang apa yang terjadi kalau perusahaan melakukan efisiensi, bagaimana kalau skill kita tidak lagi relevan? bagaimana kalau suatu hari harus mencari pekerjaan baru?
Karena itu, belajar skill baru, memperluas networking, atau membangun penghasilan tambahan bisa terasa seperti cara untuk menciptakan pilihan, bukan selalu karena kita ingin lebih kaya, tapi terkadang hanya karena kita ingin punya pegangan kalau-kalau sesuatu berubah.
Ketakutan Dalam Ketinggalan Kesempatan
Ada juga ketakutan yang lebih sederhana tentang pemikiran bahwa jika kesempatannya hanya akan datang sekali saja. Kalau tidak pindah sekarang, apakah nanti terlambat? Kalau tidak belajar AI sekarang, apakah beberapa tahun lagi kita akan tertinggal? Kalau tidak mulai bisnis sekarang, apakah nanti sudah terlalu tua?. Kita akhirnya berlari bukan hanya mengejar sesuatu, tetapi juga menghindari kemungkinan menyesal.
Job Hopping, Side Hustle, dan Hustle Culture
Pindah Kerja untuk Bergerak Lebih Cepat
Salah satu bentuk perlombaan itu terlihat dari cara kita memandang pindah kerja. Ketika kenaikan gaji atau jabatan di perusahaan berjalan lambat, pindah perusahaan bisa terlihat sebagai jalan yang lebih menarik untuk naik level. Job hopping pun tidak dapat dipastikan bahwa seseorang tidak loyal, karena dalam kondisi tertentu, perpindahan pekerjaan memang bisa menjadi strategi untuk mencari pengalaman, kompensasi, atau lingkungan yang lebih sesuai. Tapi ketika pindah kerja hanya dilakukan karena takut terlihat stagnan, kita perlu berhenti sebentar dan bertanya
“Kita sebenarnya sedang mengejar apa?“
Side Hustle untuk Punya Jalur Lain
Hal serupa terjadi dengan side hustle. Pekerjaan sampingan bisa memberikan tambahan penghasilan sekaligus membuka kemungkinan baru. Kita punya skill lain yang bisa dikembangkan dan sumber penghasilan yang tidak hanya bergantung pada satu pekerjaan. Namun, side hustle juga bisa berubah menjadi standar baru.
Setelah bekerja delapan jam, kita merasa masih harus mengerjakan sesuatu. Setelah itu belajar, setelah itu membangun personal branding. Akhirnya, bahkan waktu luang pun berubah menjadi seperti sesuatu yang harus selalu menghasilkan.
Istirahat yang Berubah Menjadi Dosa Besar
Di titik tertentu, masalahnya bukan lagi seberapa keras kita bekerja di dunia kerja, tetapi apakah kita masih tahu kapan harus berhenti. Kita hidup dalam budaya yang mudah mengagungkan kesibukan. Bangun pagi untuk bekerja, malam belajar skill baru, serta akhir pekan mengerjakan side hustle. Kalau sedang istirahat, muncul rasa bersalah, seolah-olah orang lain sedang berlari dan kita sedang membuang waktu. Padahal, tidak semua waktu harus dikonversi menjadi produktivitas.
Sebenarnya Kita Sedang Berlomba Menuju Apa?

Tidak Semua Orang Mengejar Hal yang Sama
Mungkin bagian paling melelahkan dari perlombaan karier dan dunia kerja adalah asumsi bahwa semua orang menginginkan garis finish yang sama, Padahal tidak. Ada yang mengejar gaji lebih besar, ada yang ingin jabatan tinggi, ada yang lebih memilih pekerjaan stabil dengan waktu yang cukup untuk keluarga, ada yang ingin bekerja dari mana saja, dan ada pula yang sebenarnya hanya ingin pekerjaan yang tidak membuat hidupnya terasa habis di kantor. Semua pilihan itu memiliki konsekuensi masing-masing, tidak ada satu bentuk karier di dunia kerja yang otomatis cocok untuk semua orang.
Karier Tidak Harus Selalu Naik Secara Vertikal
Kita terlalu sering membayangkan karier seperti tangga. Dari junior ke senior, dari senior ke manager, serta dari manager ke direktur. Padahal, perjalanan karier di dunia kerja itu bisa saja bergerak ke samping.
Bisa pindah industri, mengganti bidang, mengambil jeda, menurunkan jabatan demi waktu yang lebih fleksibel, atau sekedar memilih pekerjaan yang secara finansial tidak sebesar sebelumnya, tetapi lebih sesuai dengan hidup yang ingin dijalani. Tidak semuanya terlihat seperti kemajuan dari luar, tapi bukan berarti tidak ada progres.
Mungkin “Naik Level” Perlu Kita Definisikan Sendiri
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya tentang seberapa tinggi posisi kita di dunia kerja daripada orang lain, tapi tentang apakah hidup kita sedang bergerak ke arah yang memang kita inginkan atau sebaliknya.
Mungkin naik level berarti gaji yang lebih tinggi, mungkin berarti punya lebih banyak waktu, mungkin berarti pekerjaan yang lebih sesuai dengan kemampuan, atau mungkin sesederhana punya cukup penghasilan tanpa harus terus membawa pekerjaan sampai ke rumah.
Dunia Kerja yang Tidak Punya Garis Finish

Dunia kerja memang berubah, skill berubah, teknologi berubah, dan cara perusahaan bekerja juga berubah. Karena itu, berkembang tetap penting, tapi berkembang tidak harus berarti terus berlari. Kita boleh ambisius tanpa menjadikan hidup sebagai kompetisi, kita boleh ingin punya karier yang besar tanpa mengukur seluruh nilai diri dari jabatan, dan juga kita juga boleh berhenti sebentar tanpa menganggap diri sendiri tertinggal.
Sebab kalau kita terus berlari hanya karena melihat orang lain berlari, kita mungkin akan sampai jauh, tapi belum tentu tahu sedang menuju ke mana.
“Karier kita tidak harus terlihat cepat di mata orang lain, selama kita tahu ke mana sebenarnya kita sedang pergi.”
Daftar Isi

Melalui pendekatan analisis, konteks, dan sudut pandang yang lebih mendalam, Katali berupaya menghadirkan pembahasan yang tidak hanya mengikuti viralitas, tetapi juga memahami apa yang terjadi di baliknya.
