Ada masa ketika matcha mungkin hanya terdengar seperti teh hijau bubuk dari Jepang. Sekarang, kita bisa menemukannya hampir di mana-mana. Di menu café, dessert, latte, video TikTok, morning routine, sampai konten orang yang sedang membuat minuman sendiri di rumah. Yang menarik, matcha trend sebenarnya bukan cuma soal semakin banyak orang yang minum matcha, tapi ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi dibelakangnya.
Matcha datang bersama warna hijau yang khas, ritual membuatnya, café dengan aesthetic tertentu, sampai gambaran tentang kehidupan yang terlihat lebih tenang dan tertata. Semua ini dirancang seperti kita tidak cuma membeli minuman, tapi kita juga membeli “vibe” yang datang bersamanya.
Matcha Tidak Tiba-Tiba Populer, Tapi Cara Kita Melihatnya yang Berubah

Matcha Sudah Lama Ada Sebelum Era TikTok
Matcha bukan penemuan baru. Minuman ini punya sejarah panjang dalam budaya Jepang dan memiliki hubungan erat dengan tradisi upacara minum teh. Dalam tradisi tersebut, proses menyiapkan dan menyajikan matcha bahkan menjadi bagian penting dari pengalaman, bukan sekadar soal meminum tehnya.
Jadi kalau sekarang matcha tiba-tiba muncul di banyak café dan media sosial, bukan berarti matcha baru saja ditemukan, yang berubahnya adalah cara kita mengonsumsinya dan cara kita memaknainya. Dari sesuatu yang punya konteks budaya dan ritual tertentu, matcha kemudian masuk ke dunia yang jauh lebih cepat (café culture, wellness, lifestyle, dan internet).
Dari Minuman Tradisional Menjadi Produk Lifestyle
Hari ini matcha tidak harus diminum dalam bentuk tradisional. Ada matcha latte, es krim, pastry, dessert, smoothie, sampai berbagai produk kemasan. Perubahan bentuk ini membuat matcha jauh lebih mudah masuk ke kehidupan sehari-hari yang mendorong terciptanya matcha trend seperti saat ini.
Di Asia sendiri, industri makanan dan minuman sudah melihat permintaan matcha berkembang di berbagai negara, termasuk Indonesia, sementara café menjadi salah satu saluran penting untuk memperkenalkannya kepada konsumen. Akhirnya, matcha bukan lagi sesuatu yang hanya diasosiasikan dengan tradisi Jepang. Ia menjadi sesuatu yang bisa ditemui saat nongkrong, bekerja dari café, jalan-jalan, atau sekadar mencari minuman baru.
Bukan Tentang Minuman Matcha Semata
Coba pikirkan ketika kita membeli matcha di sebuah café. Yang kita dapat memang satu gelas minuman, tapi pengalaman yang dibeli bisa jauh lebih besar.
Ada tempatnya, ada interiornya, ada musiknya, ada gelas dan packaging-nya, ada cara minum dan menyajikannya, bahkan ada kemungkinan kita memotretnya sebelum pertama kali meminumnya. Di sinilah sebuah produk mulai berubah dari sekedar commodity menjadi bagian dari lifestyle.
Kenapa Matcha Trend Begitu Cocok dengan Pop Culture?

Warna Hijau yang Sulit Untuk Tidak Difoto
Ada alasan sederhana kenapa matcha begitu mudah masuk ke media sosial, yaitu karena visualnya kuat. Warna hijau yang khas membuat matcha langsung terlihat berbeda dari kopi, teh susu, atau minuman berwarna cokelat yang lebih umum. Tambahkan gelas transparan, es, latte, meja café, dan pencahayaan yang bagus. Selesai.
Satu minuman sudah punya bahan untuk menjadi konten, itupun sebelum minumannya dibuat. Bahkan perkembangan matcha trend di media sosial ikut mendorong produk ini masuk ke bentuk makanan dan minuman yang semakin beragam. Media Indonesia juga mencatat bagaimana matcha semakin sering muncul di café dan restoran, sementara popularitasnya ikut terdorong oleh viralitas di media sosial.
Dari “Enak” Menjadi Sebuah “Vibe”
Produk lifestyle biasanya tidak cuma menawarkan rasa, tapi juga menawarkan vibe. Matcha bisa diasosiasikan dengan slow morning, wellness, minimalism, café culture, sampai self-care. Bukan berarti setiap orang yang minum matcha otomatis menjalani kehidupan seperti itu, tetapi internet punya kemampuan aneh untuk membuat produk dan karakter tertentu terasa seperti satu paket.
Kopi bisa terasa seperti produktivitas, energy drink bisa terasa seperti hustle, wine bisa terasa seperti sophistication. Dan matcha? Belakangan, ia sering terasa seperti wellness yang aesthetic.
Bahkan istilah performative matcha mulai muncul untuk menggambarkan bagaimana aktivitas minum atau membuat matcha dapat berfungsi sebagai sinyal tentang selera, identitas, dan belonging di media sosial.
Pengaruh Influencer dalam Matcha Trend
Matcha juga semakin sering muncul bukan dalam iklan formal, tetapi dalam kehidupan sehari-hari para creator yang lalu-lalang di sosial media. Morning routine, “what I eat in a day”, café recommendation, home café, wellness content, atau sekedar video membuat matcha sebelum bekerja. Ini penting karena kita tidak sedang diperlihatkan sebuah produk secara langsung, tapi kita sedang diperlihatkan sebuah kehidupan yang kebetulan memiliki produk tersebut di dalamnya. Dan itu jauh lebih halus.
Kita tidak sekedar diarahkan untuk beli matcha ini, atau beli matcha yang itu. Kita justru melihat seseorang menjalani pagi yang terlihat menyenangkan, lalu matcha ada di meja. Lama-lama, kita tidak hanya menginginkan minumannya tapi kita bisa mulai menginginkan kehidupan yang terlihat seperti itu.
Ketika Minuman Mulai Menjadi Identitas
Ada “Tipe Orang” yang Bisa Kita Bayangkan Ketika Melihat Matcha
Budaya modern punya kebiasaan mengubah benda biasa menjadi semacam karakter, matcha pun begitu. Ada image tentang matcha girl, ada matcha boyfriend, ada orang yang identik dengan tote bag, café, headphones, buku, dan tentu saja segelas iced matcha. Sebagian memang hanya meme, tapi meme biasanya membuat semua itu tertanam dibenak karena kita mengenali sesuatu di dalamnya.
Kita tahu kira-kira seperti apa “orang matcha” yang sedang dibicarakan. Artinya, matcha trend sudah memiliki kode budaya sendiri, bukan sekedar minuman.
Produk Bisa Menjadi Cara Menunjukkan Selera
Kita bisa saja mengatakan kalau suka atau in-to matcha banget, tapi ketika kita rutin memilih matcha, datang ke café tertentu, membeli powder untuk membuatnya di rumah, atau mengikuti akun-akun yang membahasnya, konsumsi itu mulai mengatakan sesuatu tentang kita. Bukan lagi hanya tentang ini minuman yang disuka, tapi:
“Gue suka dunia yang datang bersama ini.”
Hal yang sama terjadi pada fashion, musik, tempat nongkrong, sampai barang koleksi. Di sinilah matcha trend bertemu dengan consumer culture: ketika sebuah produk tidak lagi hanya memenuhi kebutuhan, tetapi ikut menjadi bahasa untuk menunjukkan identitas dan selera.
Saat “Menikmati” Juga Harus “Dipamerkan”
Dulu, kita bisa menikmati sesuatu tanpa perlu ada orang lain yang tahu. Sekarang, pengalaman personal semakin mudah berubah menjadi pengalaman sosial. Minum matcha, foto, upload, lalu dapat respons. Bahkan rutinitas membuat matcha di rumah bisa menjadi konten.
Di titik ini, konsumsi dan dokumentasi mulai bercampur. Kita tidak hanya menikmati apa yang kita lakukan, tapi kita juga bisa mulai memikirkan bagaimana pengalaman tersebut terlihat ketika dibagikan. Menariknya, matcha trend sangat cocok dengan mekanisme ini karena ia punya visual, ritual, dan cerita yang mudah dikemas.
Dari Tren Menjadi Culture: Kenapa Matcha Bisa Bertahan?

Brand Tidak Menjual Matcha, Tapi Dunianya
Café matcha modern tidak sekedar hanya menjual satu gelas minuman, tapi mereka menjual pengalaman. Interior dibuat dengan konsep tertentu, packaging dibuat supaya enak dilihat, menu dibuat agar punya karakter, bahkan cara minuman disajikan bisa menjadi bagian dari daya tarik. Ini bukan sesuatu yang unik untuk matcha, tapi matcha trend punya keuntungan karena secara visual dan historis sudah membawa cerita yang cukup kuat.
Di Jepang sendiri, ritual minum teh memang menempatkan proses, ketelitian, dan perhatian pada detail sebagai bagian penting dari pengalaman. Ketika masuk ke budaya modern, sebagian elemen tersebut bisa muncul kembali dalam bentuk yang berbeda. Bukan lagi upacara beberapa jam karena mungkin hanya lima menit membuat matcha di dapur, tetapi ritualnya tetap ada.
Dampak Komunitas yang Membuat Tren Terasa Lebih Nyata
Begitu cukup banyak orang menyukai sesuatu, muncul bahasa bersama.
“Matcha favorit gue.”
“Tempat matcha terenak.”
“Ini terlalu pahit.”
“Yang ini creamy banget.”
“Harus coba yang ini.”
Dari sini, matcha bukan lagi sekadar produk. Ia mulai memiliki komunitas kecil di sekitarnya, mulai menjelma menjadi sebuah matcha trend. Orang bertukar rekomendasi, mencari tempat baru, mencoba produk baru, sampai membuat versi sendiri di rumah. Dan semakin banyak percakapan yang muncul, semakin normal pula keberadaan matcha trend ini dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika Tren Tidak Lagi Terasa Seperti Tren
Sebuah tren biasanya berlangsung singkat dan sementara. Hari ini ramai, beberapa bulan kemudian hilang. Tapi ketika sesuatu sudah punya komunitas, ritual, brand, kebiasaan, dan identitas, ia mulai bergerak ke tahap yang berbeda. Ia mulai menjadi culture.
Itulah yang membuat matcha trend menarik untuk diamati. Kita memang tidak tahu apakah semua orang akan terus minum matcha lima tahun dari sekarang, tetapi matcha trend sudah berhasil berpindah dari sekadar minuman menjadi bagian dari percakapan tentang lifestyle.
Bahkan permintaan global yang meningkat mulai memberikan dampak nyata pada industri. Pada 2025, Jepang menghadapi tekanan pasokan matcha ketika permintaan meningkat sementara produksi mengalami kendala seperti yang dilaporkan oleh Kompas. Sebuah minuman yang awalnya mungkin hanya kita lihat di café akhirnya bisa memengaruhi apa yang ditanam, diproduksi, dijual, dan dibicarakan di berbagai tempat.
Tapi Apakah Kita Benar-Benar Suka Matcha?
Kita Bisa Menyukai Produk dan Image yang Datang Bersamanya
Mungkin kita memang suka rasanya, tapi mungkin kita juga suka café tempat kita meminumnya, atau aesthetic-nya, atau ritual membuatnya, atau bahkan perasaan menjadi bagian dari lifestyle tertentu. Dan sebenarnya tidak ada yang salah dengan itu. Kita memang tidak pernah mengonsumsi sesuatu hanya karena satu alasan. Rasa, harga, pengalaman, identitas, dan lingkungan bisa bercampur menjadi satu keputusan. Justru itu yang membuat consumer culture menarik.
Pop Culture Membuat Selera Tampak Seperti Pilihan Pribadi
Kita biasanya merasa menemukan sesuatu sendiri, padahal mungkin sebelum mencobanya, kita sudah melihat matcha puluhan kali di timeline. Satu creator membuatnya, lalu creator lain merekomendasikannya. Café baru membukanya, lalu teman mengunggahnya. Algoritma kemudian menunjukkan lebih banyak lagi dan akhirnya kita merasa sepertinya matcha trend ini “gue banget”. Mungkin memang benar, tapi ada pertanyaan menarik di belakangnya yaitu seberapa besar selera kita terbentuk dari apa yang terus-menerus kita lihat?
Ini bukan berarti selera kita palsu. Hanya saja, selera juga tidak lahir di ruang kosong dan ada kemungkinan semua itu memang merupakan strategi yang telah dibuat dan direncanakan.
Mungkin Kita Tidak Membeli Matcha, Kita Membeli Versi Hidup yang Dibawanya
Mungkin ini alasan kenapa matcha trend terasa lebih besar daripada sekadar tren minuman. Kita membeli matcha, tapi bersama minuman itu datang sebuah cerita. Tentang hidup yang lebih tenang, tentang self-care, tentang wellness, tentang café culture, tentang punya waktu untuk membuat minuman sendiri dan tentang menjadi seseorang yang punya selera tertentu.
Sebagian cerita itu mungkin benar-benar kita jalani. Sebagian lainnya mungkin cuma aesthetic yang kita sukai. Tapi dalam consumer culture, perbedaan antara keduanya memang semakin tipis.
Matcha Trend yang Tidak Berhenti pada Sekedar Minuman

Matcha sudah ada jauh sebelum TikTok. Yang berubah bukan keberadaan matcha, tetapi cara kita mengonsumsi dan memaknainya. Internet membuat sebuah produk bisa membawa cerita jauh lebih cepat. Matcha punya warna, punya ritual, punya sejarah, punya komunitas, punya aesthetic, dan akhirnya punya identitas.
Mungkin itu sebabnya matcha trend terasa lebih besar daripada sekadar tren minuman. Karena kita tidak hanya melihat matcha sebagai sesuatu yang diminum, tapi kita mulai melihatnya sebagai bagian dari cara seseorang menjalani hari. Itulah kekuatan consumer culture hari ini. Kita tidak selalu membeli sesuatu karena benar-benar membutuhkan barangnya. Biasanya, kita membeli kehidupan yang terlihat menyenangkan ketika barang itu menjadi bagian di dalamnya. Jadi kalau suatu hari kita memesan matcha lagi, mungkin pertanyaannya bukan cuma rasanya yang enak atau tidak. Tapi pertanyaannya sudah bergerser menjadi:
“Apakah kita suka produknya? Atau hal-hal yang tidak terlihat dibaliknya?”
Daftar Isi

Melalui pendekatan analisis, konteks, dan sudut pandang yang lebih mendalam, Katali berupaya menghadirkan pembahasan yang tidak hanya mengikuti viralitas, tetapi juga memahami apa yang terjadi di baliknya.
