Dulu, hidup hemat bisa terasa seperti pilihan. Kita mengurangi pengeluaran karena sedang menabung untuk sesuatu, ingin membeli barang tertentu, atau memang tidak terlalu tertarik dengan gaya hidup konsumtif. Tapi sekarang situasinya terasa sedikit berbeda. Bagi sebagian anak muda, frugal living adalah cara untuk menjaga agar uang tetap cukup sampai akhir bulan. Bukan sekadar pilihan gaya hidup, tetapi strategi supaya kehidupan tetap bisa berjalan ketika harga kebutuhan terus berubah dan ruang finansial terasa semakin sempit. Yang menarik, kenapa hidup hemat yang seharusnya menjadi pilihan sekarang malah sudah bergeser menjadi seperti sebuah kewajiban?
Ketika Hidup Hemat Bukan Lagi Sekadar Pilihan

Dulu Hemat Untuk Menabung, Sekarang Hemat Untuk Bertahan
Ada perbedaan besar antara berhemat karena ingin memiliki lebih banyak dan berhemat karena takut uang tidak cukup. Ketika seseorang menabung untuk membeli rumah misalnya, mengurangi makan di luar mungkin terasa seperti bagian dari rencana. Ada tujuan yang jelas. Tetapi ketika sebagian besar penghasilan sudah habis untuk kebutuhan dasar, keputusan untuk tidak makan di luar bukan lagi soal mencapai target tertentu. Tapi karena memang tidak ada ruang untuk itu, sesederhana uangnya sudah tidak cukup saja. Kita bukan lagi sekadar bertanya tentang pengeluaran apa yang bisa dikurangi, tapi pengeluaran apa saja yang tidak bisa dipotong dan dihemat. Mindset-nya sudah berbalik 180 derajat.
Perubahan kecil dalam cara berpikir ini menunjukkan bahwa persoalan finansial anak muda hari ini bukan hanya tentang kemampuan mengatur uang. Ada konteks ekonomi yang ikut menentukan seberapa jauh uang tersebut bisa membawa kita. Bahkan pergeseran ini juga yang mendorong sebagian anak muda berpikir bahwa frugal living adalah sebuah gaya hidup yang dipaksakan, bukan hanya sebuah keputusan yang dapat dipilih semaunya. Membuatnya sebagai salah satu solusi dalam menghadapi kompleksnya permasalahan ekonomi modern.
Penghasilan Tidak Selalu Bisa Mengejar Kebutuhan
Kita sering mendengar nasihat untuk meningkatkan penghasilan ketika merasa uang tidak cukup. Nasihat itu masuk akal, tetapi tidak semua orang bisa menaikkan penghasilannya dengan kecepatan yang sama. Sementara itu, kebutuhan sehari-hari tetap berjalan. Tempat tinggal harus dibayar, makanan harus dibeli, transportasi tetap dibutuhkan, kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan keluarga juga tidak berhenti hanya karena penghasilan kita belum naik.
Akibatnya, mengurangi pengeluaran menjadi salah satu hal yang paling mudah dikendalikan. Bukan berarti masalahnya selalu karena kita terlalu boros. Kadang, ruang finansial memang semakin sempit. Hal ini juga menjadi bagian dari persoalan biaya hidup di Indonesia yang membuat anak muda semakin berhati-hati dalam menentukan ke mana uang mereka pergi.
Ada Bedanya Berhemat Karena Pilihan Dan Karena Terpaksa
Dari luar, keduanya mungkin terlihat sama. Sama-sama jarang makan di restoran, sama-sama memilih barang yang lebih murah, sama-sama mengurangi belanja, tetapi alasan di baliknya bisa sangat berbeda.
Ada orang yang memang memilih hidup sederhana karena tidak ingin terlalu banyak barang atau pengeluaran. Ada juga yang sebenarnya ingin menikmati lebih banyak hal, tetapi harus menahan diri karena kondisi finansialnya belum memungkinkan. Tapi semua itu tidak serta merta memberikan pengertian bahwa frugal living adalah gaya hidup yang ia pilih.
Pilihan yang pertama adalah sebuah opsi, tapi yang kedua adalah adaptasi. Dan semakin banyak orang yang harus beradaptasi dengan kondisi ekonomi, semakin mudah gaya hidup hemat berubah dari preferensi pribadi menjadi sesuatu yang terasa seperti standar baru untuk bertahan.
Kenapa Frugal Living Adalah Gaya Hidup yang Semakin Populer di Kalangan Anak Muda?
Rasa Aman Menjadi Lebih Berharga Daripada Gaya Hidup
Ada perubahan menarik dalam cara kita memandang uang. Dulu, punya uang mungkin identik dengan kemampuan membeli lebih banyak. Sekarang, bagi sebagian anak muda, punya uang justru berarti punya ruang untuk merasa aman.
Ada tabungan ketika kehilangan pekerjaan, ada dana ketika keluarga membutuhkan bantuan, serta ada cadangan ketika sesuatu yang tidak direncanakan terjadi. Karena itu, mengurangi konsumsi tidak selalu berarti kita kehilangan sesuatu. Kadang kita sedang menukar konsumsi hari ini dengan rasa aman untuk beberapa bulan ke depan. Ketika kondisi ekonomi yang tidak selalu bisa diprediksi, pertukaran tersebut terasa semakin masuk akal. Hal ini juga yang membuat frugal living adalah salah satu solusi yang diambil oleh banyak anak muda.
Hidup Sederhana Mulai Terlihat Seperti Strategi Finansial
Fenomena frugal living adalah sebuah fenomena yang sebenarnya bukan merupakan hal yang benar-benar baru. Memasak sendiri, membeli barang yang bisa digunakan bertahun-tahun, mengurangi pembelian impulsif, membatalkan langganan yang jarang digunakan, menggunakan transportasi yang lebih murah ataupun membandingkan harga sebelum membeli sesuatu. Semua itu sudah lama dilakukan, yang berubah hanya konteks dalam melakukannya.
Sekarang, praktik tersebut semakin sering dibicarakan sebagai bagian dari strategi finansial. Bukan karena anak muda tiba-tiba tidak suka menikmati hidup, tetapi karena semakin banyak keputusan konsumsi yang harus dipikirkan dampaknya terhadap kehidupan setelahnya.
Frugal Living Adalah Sebuah Bentuk Kontrol
Ada banyak hal dalam kehidupan finansial yang tidak bisa kita kendalikan. Harga barang bisa berubah, kondisi pekerjaan bisa berubah, pendapatan belum tentu naik sesuai harapan, bahkan biaya kesehatan bisa muncul tiba-tiba. Dalam situasi seperti itu, mengatur pengeluaran menjadi salah satu wilayah yang masih bisa kita kendalikan.
Kita mungkin tidak bisa menentukan harga sewa rumah, tetapi kita bisa menentukan apakah harus tinggal di tempat yang paling mahal. Kita tidak bisa mengontrol harga makanan, tetapi kita masih bisa menentukan seberapa sering makan di luar. Kita tidak bisa menjamin pendapatan akan selalu naik, tetapi kita bisa berusaha memastikan pengeluaran tidak ikut naik tanpa batas. Karena itu, frugal living adalah hal yang tidak selalu lahir dari keinginan untuk menjadi “hemat”. Kadang ia lahir dari keinginan sederhana untuk merasa punya kendali.
Tapi Kapan Hidup Hemat Mulai Terasa Seperti Beban?

Apakah Frugal Living Adalah Ketika Semua Pengeluaran Terasa Seperti Kesalahan?
Ada titik ketika berhemat mulai kehilangan fungsi awalnya. Makan di luar membuat kita merasa bersalah, membeli pakaian baru terasa bersalah, pergi liburan terasa tidak produktif atau menghabiskan uang untuk hobi terasa seperti kesalahan. Pada akhirnya, setiap pengeluaran mulai diperlakukan sebagai sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan.
Padahal, tidak semua konsumsi adalah pemborosan. Kita memang perlu makan, kita juga perlu bersosialisasi. Sesekali berlibur bukan berarti gagal mengatur keuangan. Dan membeli sesuatu yang memang kita butuhkan tidak otomatis membuat kita konsumtif. Kalau setiap rupiah yang keluar selalu dianggap sebagai kesalahan, mungkin masalahnya bukan lagi pada gaya hidup kita, tapi kita sudah terlalu takut kehilangan rasa aman karena perubahan yang semakin tidak menentu.
Hidup Terlalu Hemat Bisa Membuat Kita Lupa Menikmati Hidup
Ada pertanyaan sederhana yang kadang terlupakan:
“Kalau semua uang harus disimpan untuk masa depan,
kapan kita boleh menikmati hasil kerja hari ini?”
Ini bukan ajakan untuk menjadi boros, justru sebaliknya. Kita perlu memahami bahwa uang memiliki fungsi selain bertahan hidup. Uang juga bisa digunakan untuk menciptakan pengalaman, waktu, kenyamanan, dan hubungan dengan orang lain. Kalau frugal living adalah hal yang membuat kita lebih sadar dalam menggunakan uang, itu hal yang baik, tetapi kalau malah membuat kita takut menggunakan uang untuk apa pun, kita mungkin sedang membangun bentuk kecemasan baru, bukan gaya hidup yang progresif.
Tidak Semua Orang Punya Titik Awal Finansial Yang Sama
Satu hal yang sering hilang dalam percakapan tentang hidup hemat adalah konteks. Berhemat bagi seseorang yang tinggal bersama orang tua tentu berbeda dengan orang yang harus membayar kos setiap bulan. Berhemat bagi orang yang tidak memiliki tanggungan keluarga juga berbeda dengan mereka yang sebagian penghasilannya harus digunakan untuk membantu orang tua atau anggota keluarga lain. Begitu juga dengan lokasi.
Biaya hidup di kota besar dan daerah tidak selalu sama. Karena itu, tidak ada satu standar frugal living yang bisa diterapkan kepada semua orang. Bahkan ketika dua orang memiliki penghasilan yang sama, kondisi finansial mereka bisa sangat berbeda karena tanggung jawabnya berbeda. Karena pada hakikatnya frugal living adalah pilihan masing-masing orang dengan kemampuan finansial yang berbeda-beda.
Frugal Living Bukan Berarti Harus Menolak Semua Kenikmatan

Hemat Bukan Sama Dengan Pelit
Keduanya sering terlihat mirip, tetapi sebenarnya berbeda. Pelit berusaha mengeluarkan uang sesedikit mungkin, namun pada kasus frugal living adalah tentang apakah uang yang kita keluarkan sepadan dengan apa yang kita dapatkan. Itu berarti seseorang bisa saja mengeluarkan uang lebih banyak untuk sesuatu yang memang penting baginya.
Misalnya membeli kasur yang lebih mahal karena kualitas tidur penting, membayar kursus karena ingin meningkatkan kemampuan, atau pergi berlibur setelah berbulan-bulan bekerja karena pengalaman tersebut memang punya nilai bagi dirinya. Yang dikurangi bukan semua pengeluaran, tapi yang dikurangi adalah pengeluaran yang tidak benar-benar memberikan nilai.
Yang Dicari Bukan Pengeluaran Paling Sedikit
Kalau tujuan frugal living hanya menjadi orang dengan pengeluaran paling rendah, kita bisa terjebak dalam perlombaan baru. Siapa yang paling sedikit makan di luar? Siapa yang paling murah tempat tinggalnya? Siapa yang paling jarang membeli sesuatu? Padahal, itu bukan inti hidup hemat.
Tujuannya bukan menghabiskan uang sesedikit mungkin, tapi tujuannya adalah menggunakan uang dengan lebih sadar. Seseorang bisa memiliki pengeluaran yang lebih besar daripada orang lain dan tetap menjalani gaya hidup yang lebih frugal jika sebagian besar pengeluarannya memang sesuai dengan prioritas hidupnya. Karena pada akhirnya, angka pengeluaran tidak bisa berdiri sendiri. Kita harus melihat apa yang dibeli oleh angka tersebut.
Hidup Hemat Seharusnya Membeli Kebebasan, Bukan Mengambilnya
Ini mungkin ukuran yang lebih sederhana untuk melihat apakah frugal living adalah hal yang masih sehat atau tidak. Setelah hidup lebih hemat, apakah kita merasa punya lebih banyak pilihan, apakah hutang menjadi lebih sedikit, apakah tabungan jadi bertambah, apakah kita jadi lebih siap menghadapi keadaan darurat, atau lebih bebas mengatakan tidak pada pekerjaan yang tidak cocok karena punya cadangan finansial?
Kalau iya, hidup hemat sedang memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar saldo rekening, yaitu kebebasan. Tetapi kalau kita justru menjadi takut membeli apa pun, terus merasa bersalah ketika menikmati hidup, dan tidak pernah merasa cukup aman meskipun tabungan terus bertambah, mungkin ada sesuatu yang perlu dievaluasi.
Jadi, Apakah Kita Benar-Benar Memilih Hidup Hemat?
Ketika “Hidup Sederhana” Menjadi Cara Beradaptasi
Tidak semua orang yang menjalani frugal living adalah korban dari mengikuti tren, sebagian hanya sedang menyesuaikan diri. Ketika harga kebutuhan naik sementara penghasilan tidak bergerak dengan kecepatan yang sama, gaya hidup memang harus ikut berubah. Yang dulu terasa biasa mungkin sekarang harus dipikirkan dua kali. Makan di luar, punya kendaraan, tinggal sendiri, bepergian ataupun membeli barang baru. Bukan karena semua itu tiba-tiba menjadi buruk, tetapi karena biaya untuk menjalani kehidupan yang dianggap “normal” juga ikut berubah.
Mungkin Yang Berubah Bukan Kita, Tapi Harga Untuk Hidup Normal
Ini mungkin bagian yang paling menarik. Kita sering merasa diri sendiri semakin boros karena uang terasa cepat habis. Padahal, bisa jadi bukan kita yang berubah sebanyak itu. Harga untuk menjalani kehidupan yang sama yang kita anggap normal mungkin memang sudah berbeda. Tempat tinggal lebih mahal, kebutuhan sehari-hari meningkat, serta biaya kesehatan dan pendidikan bertambah. Dan ketika semua itu terjadi bersamaan, pilihan untuk hidup lebih hemat menjadi semakin masuk akal.
Pada titik tertentu, frugal living adalah sebuah hal yang berbeda. Ia bukan lagi soal menjadi orang yang sangat hemat. Ia menjadi cara untuk mempertahankan standar kehidupan yang kita miliki tanpa harus terus menaikkan pengeluaran.
Hemat Karena Sadar Berbeda Dengan Hemat Karena Takut
Pada akhirnya, mungkin bukan soal apakah kita harus menjalani frugal living atau tidak, atau mempermasalahkan frugal living adalah gaya hidup yang tepat atau tidak, yang lebih penting adalah alasan di baliknya. Hemat karena sadar berarti kita tahu apa yang penting. Kita tahu mana yang ingin dipertahankan dan mana yang rela dilepaskan. Sementara hemat karena takut membuat setiap keputusan finansial terasa seperti ancaman. Takut uang habis, takut masa depan, takut tertinggal, ataupun takut tidak punya cukup. Keduanya bisa menghasilkan rekening yang sama-sama terlihat sehat, tetapi pengalaman hidupnya sangat berbeda.
Frugal Living Adalah Hal yang Seharusnya Membuat Kita Lebih Bebas, Bukan Lebih Takut

Frugal living adalah gaya hidup hemat, tetapi di tengah biaya hidup yang semakin menekan, ia juga menjadi cermin dari cara anak muda mencari rasa aman. Kita belajar mengurangi pengeluaran bukan selalu karena ingin hidup sesederhana mungkin. Kadang kita hanya ingin memastikan bahwa penghasilan yang ada masih cukup untuk membawa kita sampai ke tujuan berikutnya.
Masalahnya muncul ketika berhemat tidak lagi terasa seperti pilihan, tapi ketika setiap pengeluaran membuat kita merasa bersalah. Ketika menikmati hidup dianggap sebagai kegagalan finansial, atau ketika kita terus mengurangi kebutuhan tetapi tetap tidak pernah merasa aman. Mungkin karena itu, pertanyaan tentang frugal living adalah seharusnya bukan tentang seberapa hemat kita hidup, tapi:
“Kita sedang berhemat untuk membangun kehidupan yang kita inginkan, atau karena merasa sudah tidak punya pilihan lain?”
Karena hidup sederhana dan hidup dalam keterbatasan memang bisa terlihat mirip dari luar, tapi rasanya sangat berbeda ketika kita yang memilihnya.
Daftar Isi

Melalui pendekatan analisis, konteks, dan sudut pandang yang lebih mendalam, Katali berupaya menghadirkan pembahasan yang tidak hanya mengikuti viralitas, tetapi juga memahami apa yang terjadi di baliknya.
